Rabu, 12 Juni 2013

Ayung Rafting Arung Jeram Di Bali

Setelah sampai di tempat starting point, rafting di sungai Ayung akan segera dimulai. Para peserta akan diberi pengarahan oleh instruktur yang sudah terlatih dan berpengalaman dengan Ayung river rafting. Misalnya pengenalan alat-alat yang digunakan seperti jaket pelampung , dayung,  perahu karet, posisi duduk di atas perahu, cara penyelamatkan diri jika perahu terbalik, dan hal- hal lainnya yang berkaitan dengan kenyamanan dan keselamatan peserta .
Masing masing boat menampung 4 orang peserta ditambah 1 orang instruktur. Selama kurang lebih 2,5 jam anda akan mencoba mengarungi derasnya sungai Ayung yang menempuh jarak kurang lebih 13 km. Dalam perjalanan peserta dapat menikmati jeram-jeram sungai Ayung dan berfoto-foto di batu batu pinggir sungai yang latar belakangnya ukir-ukiran sepanjang ratusan meter. Hal ini mencerminkan kreatifitas seni yang tinggi dari orang Bali sehinnga menjadi ciri khas dari obyek wisata rafting di sungai Ayung.Ayung River Rafting Ayung Rafting
Bagi anak-anak yang ingin mencoba Ayung Rafting, tidak perlu khawatir karena airnya tidak terlalu deras dan jeramnya tidak menukik. Namun harus tetap ditemani orang tua masing-masing. Olahraga ini sangat seru dan menantang. Apalagi dilakukan beramai ramai bersama keluarga, dan teman-teman.
Setelah mengarungi air sungai Ayung sepanjang 13 km, peserta akan sampai di stopping point. Di tempat ini disediakan tempat beristirahat, ruang ganti, kamar mandi, dan handuk gratis. Kegiatan akan dilanjutkan dengan menikmati makan siang dengan menu-menu buffet yang telah disediakan. Obyek wisata Ayung Rafting ramai dikunjungi wisatawan dari dalam negeri maupun mancanegara. Terutama menjelang Natal, Tahun Baru, liburan sekolah dan hari libur nasional lainnya.
Kami sebagai agent penyedia layanan water sport di Bali, menyediakan Bali rafting untuk anda, tentunya dengan harga yang jauh lebih murah dari pada anda datang langsung ke tempat permainan.

Bukit Campuhan, Kawasan Wisata Alternatif di Bali

Bukit Campuhan, Kawasan Wisata Alternatif di Bali
Gianyar,  – Langit biru terhias awan putih pagi itu mengiringi kecerian perjalana para wisatawan, bentangan ilalang hijau pekat berjubel memadati kiri kanan jalan setapak.
 
Dengan lekukan garis bukit begitu nampak membawa suasana perjalanan yang tak terasa lelah, terpaan angin lembut memaksa ilalang menari-nari menemani riuh daun-daun kelapa yang berderet menjulang tinggi di Bukit Campuhan.
 
Bukit Suci Gunung Lebah nama lain dari Bukit Cempuhan ini, berada di Desa Campuhan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali.
 
Selain untuk menikmati keindahan alam dari atas bukit ini, para pengunjung baik dari wisatawan macanegara maupun wisatawan domestik, dapat melakukan aktivitas trekking, pemotretan atau hanya sekedar melancong melepas penat, hal ini tergambar dari perjalanan WisatanewsCom saat mengunjungi Bukit Campuhan.
 
Bukit Campuhan, berdekatan dengan pusat kota Ubud dan menjadi salah satu alternatif  para wisatawan selain mengunjungi ke puri agung, museum, monkey forest, pasar seni yang ada di Ubud Bali, bukit ini pun punya sebutan lain, ‘Sunset Hill’ biasa wisatawan mancanegara sebut.
 
Seperti Roberta Giovedi wisatawan asal Napoli Inggris  menyebut Bukit Campuhan,’Sunset Hill’. Roberta menuturkan Ubud Bali banyak tempat yang indah dan nyaman untuk bisa di kunjungi namun bagi diri dan keluarganya pemandangan bagus dapat dinikmati di sini. Tutur Roberta
 
Sumber yang dapat dihimpun WisatanewsCom bukit ini, mempunyai cerita legenda dan masyarakat adat mempercayai, bukit Campuah adalah “Bukit Suci Gunung Lebah” maka untuk menjaga kesuciannya.
 
Para pengunjung dilarang berbuat yang tidak baik seperti berbuat mesum, membawa narkoba, berkata kotor, membuang sampah sembarangan, membuang puntung rokok berbuat onar.
 
“Jika hal hal yang dilarang dilakukan maka akan dikenakan sangsi berupa sangsi adat,” kata salah satu pengunjung yang bernama I Made Surya.
 
Made menambahakan, menurut cerita orang tuanya dalam perjalanan suci Rsi Markandya mencari sinar ke Bali, keberadaan bukit lebah menjadi bagian mata rantai dari cerita proses pencarian, sedang  bukit ini entah kenapa dinamai "Bukit Suci Gunung Lebah”.
 
Memasuki kawasan yang dianggap suci dan bersejarah ini tidak dipungut biaya, bukit yang miliki luas lebih dari 10 hektar menjadi tempat favorit para turis di Ubud Bali.
 
Setiap sore dikunjungi ratusan pengunjung  hanya sekedar untuk melepas lelah, bersepeda, mengambil gambar sambil menunggu waktu yang pas dikala matahari pulang sesuai dengan sebutan nama Sunset Hill. 

Air Terjun Nungnung

Air terjun Nungnung terletak Desa Plaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung di ketinggian 900 meter diatas permukaan laut. Air terjun Nungnung berada dilembah dengan tinggi 50 meter dan mempuyai debit air cukup besar. Pemandangan sepanjang perjalanan sangatlah hijau dan menyegarkan dengan Suasana alam sekitar masih alami dan asri, gemericik suara air yang jatuh dibebatuan, udara yang sejuk dan dingin airnya membuat begitu nyaman.Karena keeksotikan serta letaknya didaerah pedesaan, air terjun ini banyak menarik minat bagi para wisatawan lokal maupun wisatawan manca Negara untuk datang dan menyaksikan keindahannya.
Selain itu objek wisata ini sangat cocok untuk para pengunjung yang menyukai olahraga trekking karena untuk sampai ke lokasi harus terlebih dahulu menyusuri persawahan berbukit, anak tangga yang jumlahnya lumayan banyak barulah bisa sampai turun ke lembah untuk dapat melihat air terjun dari jarak dekat.
Pada tahun 1996 Air terjun Nungnung mulai dipromosikan sebagai objek wisata oleh pemerintah Kabupaten Badung. Sejak saat itu kondisi sarana dan prasarana air terjun Nungnung sudah banyak mengalami perubahan dengan disediakannya fasilitas fasilitas penunjang.
Masyarakat desa disekitar bermata pencarian sebagai petani, ini bisa dilihat dari banyaknya sawah yang ada saat akan menuju lokasi objek wisata air terjun Nungnung ini.
Jarak tempuh kelokasi ini lebih kurang 40 km sebelah utara kota Denpasar dan kira-kira 110 menit perjalanan bila menggunakan kendaraan bermotor dari bandara Ngurah Rai Bali.
Kawasan wisata ini memiliki fasilitas parkir yang cukup luas tersedia juga beberapa buah gazebo (bale bengong) sebagai tempat peristirahatan dan toilet bagi mereka yang memerlukan.
Bagi anda yang sudah terlalu penat dengan kehidupan kota dengan datang ke air terjun Nungnung ini akan terasa tenang dan nyaman

Senin, 10 Juni 2013

Taman Ujung Karangasem

Taman Ujung Karangasem: Tempat Wisatanya Orang Bali

13562786672133811695
Saya tertawa geli mendengar pertanyaan seorang teman kepada saya, “Jika orang Bali berwisata di Bali, mereka pergi ke mana?. Apakah sama dengan tourist-tourist yang lain?”. Teman saya itu ingin mengunjungi tempat wisata yang memang dijadikan tempat wisata bagi orang Bali sendiri. Lucu juga! Pertanyaan yang tidak umum, namun menggelitik. Kelihatannya memang tidak sama persis. Misalnya ketika pelancong Jakarta menyebut Kuta sebagai tempat tujuan teratas di Bali, belum tentu orang Bali akan menempatkan Kuta di posisi teratas. Orang Bali pergi ke Kuta untuk bekerja. Bukan untuk berwisata. Kalaupun bisa disebut sebagi berwisata, paling banter ke sana hanya untuk melihat sunset. Ada lebih banyak lagi tempat-tempat lain di Bali yang umumnya mereka kunjungi dan anggap lebih menarik.
1356278766234997498
Saya mengingat-ingat beberapa tempat yang pernah saya kunjungi saat Study Tour sekolah, maupun saat berpiknik dengan teman-teman atau keluarga saya pada hari Manis Galungan atau Manis Kuningan – karena kedua hari itu, bisa disebut sebagai hari berpikniknya orang-orang Bali. Salah satu yang saya sebutkan diantaranya adalah Taman Ujung yang letaknya di Karangasem – ujung timur Pulau Bali, kurang lebih sekitar 85 km jaraknya dari Denpasar.
Taman Ujung yang sebenarnya bernama Taman Sukasada ini menarik bagi orang Bali, karena nilai sejarah dan keindahannya. Letaknya tak jauh dari pantai dan berada pada ketinggian, sehingga jika kita berada di sana, kita bisa memandang leluasa laut yang biru di bawah langit luas membentang. Di sisi lain kita juga bisa memandang kemegahan Gunung Agung yang permai. Sungguh pemandangan alam yang luarbiasa indah.
1356278912727178399
Taman ini sebenarnya merupakan sebuah taman Istana Air yang dibangun pada tahun 1919. Dan rusak parah karena letusan Gunung Agung pada tahun 1963 dan tambah rusak lagi gara-gara gempa besar yang melanda Karangasem pada tahun 1979. Namun anehnya walaupun saat istana ini dalam keadaan rusak parah dan hanya tinggal puing-puing saja, saya ingat orang-orang Bali tetap saja berwisata ke sana untuk melihat puing-puing taman air itu. Syukurnya tahun 2004, akhirnya Istana ini berhasil di pugar kembali, walaupun ada bagiannya yang sengaja tidak direnovasi untuk mempertahankan kondisi aslinya.
Jika kita lihat tahun pembangunan taman air ini pada tahun 1909 dan dikaitkan dengan sejarah Karangasem, maka jelas sekali bahwa Taman Air ini dibangun di bawah pemerintahan I Gusti Gde Djelantik.
13562791081948587737
Kerajaan Karangasem sebenarnya telah dihapuskan pada tahun 1908 oleh Belanda dan dirubah menjadi, Gauverments Lanschap Karangasem dengan pimpinan seorang Stedehouder/ Regent yang bernama I Gusti Gde Djelantik (Anak angkat Raja Ida Anak Agung Gde Djelantik). Beliau dianugerahi gelar oleh Belanda sebagai Ida Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem pada tahun 1928. Walaupun Belanda mengurangi dan terus mengurangi kekuasaan I Gusti Gde Djelantik, namun secara umum rakyat Bali tetap memahami beliau sebagai Raja Karangasem, hingga kerajaan ini benar-benar terhapus dengan masuknya penjajahan Jepang. Beliau pula yang dikagumi sebagai seorang yang memiliki selera seni tinggi dan salah satu karya beliau adalah Taman Ujung ini. Tentu saja beliau melibatkan juga arsitek yang handal baik arsitek tradisional dari Bali, maupun arsitek dari Belanda dan China. Sehingga tidak heran, arsitektur taman ini memang bergaya campuran.
Taman terdiri atas kolam-kolam dengan istana yang mengapung di air tempat raja istirahat, bale kambang di kolam bagian selatan, bale bengong yang berbentuk bundar, bale kapal – bangunan di ketinggian tempat memantau kapal yang melintas. Sisanya adalah taman rumput dan bunga-bunga.
13562789951921984763
Saking terpesonanya orang Bali akan keindahan tempat ini, bahkan bisa kita temukan dalam lagu tradisional sekar alit yang diajarkan oleh para orangtua kepada anaknya sebagai berikut:
“Ratu bulan, ngiring ke Ujung melali/ngelila ulangun/drika wenten tlaga alit/mekekayon nyambu rakta// Sisin nyane bayem raja menumbuhin/meyeh setrup kocap/mebias baan gula pasir/lalepayan cara Jawa”.
Kalau diterjemahkan kurang lebih artinya;”Ratu bulan (ucapan kepada seseorang yang disayangi atau dipuja), mari kita pergi bertamasya ke Ujung, untuk merelaksasi pikiran, di sana terdapat sebuah telaga kecil, dinaungi oleh pohon jambu bol (pohon ini dianggap indah di Bali karena teduh dan bunganya yang pink sangat indah dan meriah). Dipinggir telaga itu ditumbuhi oleh bunga bayam hias yang indah, airnya manis seperti sirop dan pasirnya terbuat dari gula tebu, cara bersantai ala Jawa”
13562787411064344533
Ha ha..memang lagunya agak fantastis. Mana ada kolam yang berair manis seperti sirop dan berpasir yang terbuat dari gula pasir. Namun demikianlah. Orang Bali termasuk saya menganggap tempat ini adalah tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi.
Jadi kalau pas lagi di Bali,  mungkin ada baiknya juga berkunjung ke Taman Ujung Karangasem